Mus’ab bin Umair, Duta Rasulullah di Madinah yang Syahid di Perang Uhud
Dahulu di kota Makkah, hiduplah seorang pemuda yang sangat tampan dan selalu berpenampilan rapi. Namanya Mus’ab bin Umair. Ia adalah anak kesayangan ibunya. Dia juga berasal dari keluarga yang kaya raya. Dari seluruh pemuda di kota Mekah, pakaiannya selalu paling bagus, sepatunya paling halus, dan tubuhnya selalu harum oleh aroma kesturi.
Teman-temannya sering berkata, “Mus’ab adalah pemuda paling beruntung di kota ini!”
Suatu hari, Mus’ab mendengar kabar tentang Nabi Muhammad dan ajaran baru bernama Islam. Ia penasaran. Diam-diam ia pergi mendengarkan ayat Al-Qur’an. Saat mendengar bacaan itu, hatinya terasa hangat dan tenang, seperti diselimuti cahaya. Saat itulah ia yakin, “Ini kebenaran.” Mus’ab pun memeluk Islam.
Tetapi ketika ibunya tahu, ia sangat marah. Ibunya tidak ingin Mus’ab mengikuti ajaran Nabi. Ia mengurung Mus’ab di dalam rumah agar tidak bertemu kaum muslim. Semua pakaian bagusnya diambil. Makanan enaknya dihentikan. Mus’ab yang dulu hidup mewah kini hidup sederhana.
Namun Mus’ab tidak sedih. Ia berkata dalam hati, “Walaupun aku kehilangan harta, aku tidak ingin kehilangan Allah.” Akhirnya ia berhasil keluar dari rumah dan bergabung dengan kaum muslim. Ia rela meninggalkan semua kemewahan demi iman.
Tugas Ke Madinah
Suatu hari, Nabi Muhammad memberi Mus’ab tugas penting. Dia diutus pergi ke kota Madinah. Tugasnya sangat mulia, yaitu untuk mengajarkan Islam kepada orang-orang di sana. Mus’ab senang sekali. Ia pergi dengan semangat. Ia berbicara dengan lembut kepada setiap orang. Ia membacakan ayat Al-Qur’an dengan suara merdu. Banyak orang tersentuh dan masuk Islam. Karena usahanya, Islam menyebar dengan cepat di Madinah.
Setelah penduduk Madinah mulai banyak yang masuk Islam, maka Allah SWT menyuruh Kaum Muslimin, termasuk Nabi Muhammad SAW untuk berhijrah dan Mekah ke Madinah. Kota Madinah pun menjadi pusat dakwah Umat Islam yang sangat kokoh. Jadi, bisa dikatakan, jasa Mus’ab sangat besar, meski semua itu tentu atas kemudahan dari Allah SWT. Itulah yang membuat Nabi sangat menyayangi Sahabatnya yang satu ini.
Syahid di Perang Uhud
Setelah tumbuh menjadi kekuatan besar di Jazirah Arab, Umat Islam mulai membangun angkatan perang yang tangguh. Perang pertama, yaitu Perang Badar, dimenangkan kaum Muslimin dengan gilang gemilang. Mus’ab termasuk orang yang ikut berperang di Badar.
Beberapa waktu kemudian, terjadilah Perang Uhud. Mus’ab ikut berjuang bersama kaum muslim. Ia ditugasi membawa panji atau bendera pasukan Muslimin. Ia berdiri teguh walau keadaan sangat sulit. Musuh menyerangnya, tetapi ia tidak lari. Ia tetap menjaga bendera agar tetap tegak. Musuh mengincarnya karena tahu: selama panji itu tegak, semangat kaum muslim tak akan runtuh.
Satu tebasan pedang memutus tangan kanannya. Ia segera memegang panji dengan tangan kiri. Tebasan kedua memutus tangan kirinya. Ia mendekap panji itu ke dadanya, berbisik ayat yang pernah mengubah hidupnya. Tebasan berikutnya menumbangkannya. Mus’ab bin Umair pun gugur sebagai syahid. Dia adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa.
Setelah perang selesai, para sahabat ingin mengkafaninya. Akan tetapi, mereka hanya menemukan satu jubah miliknya yang saat itu dikenakannya. Ketika jubah itu dipakai menutup kepalanya, kakinya terbuka. Saat menutup kakinya, kepalanya terbuka. Mereka pun terharu, karena dulu Mus’ab adalah pemuda paling mewah di Makkah, tetapi saat wafat ia hampir tidak punya apa-apa.
Walau begitu, Mus’ab justru menjadi sangat mulia. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan dari pakaian mahal atau harta banyak, melainkan dari hati yang beriman dan berani membela kebenaran.
Sejak saat itu, nama Mus’ab selalu dikenang sebagai pemuda pemberani yang memilih Allah di atas segalanya. Dan kisahnya mengajarkan kita: menjadi baik dan berani itu jauh lebih indah daripada menjadi kaya saja. Luar biasa ya, kisah Mus’ab? Semoga kita bisa meneladani karakternya yang sangat mulia itu. [YM].



Posting Komentar untuk "Mus’ab bin Umair, Duta Rasulullah di Madinah yang Syahid di Perang Uhud"