Bilal bin Rabah, Muadzin Kesayangan Nabi
Hai, teman-teman! Sudah pernah mendengar kisah tentang Bilal bin Rabah? Beliau adalah seorang Sahabat Nabi yang terkenal shalih. Bilal adalah sahabat Nabi yang dulu pernah menjadi budak dan sering disakiti karena beriman kepada Allah. Tapi ia tetap sabar dan kuat.
Bilal memang lahir di Mekah, tetapi statusnya adalah seorang budak. Dia adalah budak berkulit hitam milik Umayyah bin Khalaf. Namun Bilal termasuk orang pertama yang masuk Islam. Nah, setelah tahu bahwa Bilal mengikuti ajaran Muhammad SAW, majikannya sangat marah. Bilal disiksa dengan sangat kejam oleh Umayyah bin Khalaf. Dia ditindih batu besar di tengah gurun pasir. Namun Bilal tetap bertahan dan terus mengucap, "Ahad, Ahad".
Pada saat disiksa, Abu Bakar melihat kondisinya dan merasa sangat kasihan. Bilal dibeli dan dimerdekakan dari perbudakan oleh sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mulia.
Meski beliau dahulunya seorang budak, berkulit hitam dan berambut keriting, Nabi tidak pernah menghinanya. Demikian juga para Sahabat yang lain. Semua mencintai Bilal.
Bilal juga memiliki keutamaan yang jarang dimiliki Sahabat yang lain, lho. Apa coba? Ya, beliau memiliki suara sangat merdu. Karena itu, Nabi sering menunjuk beliau untuk mengumandangkan adzan.
Pada suatu hari yang sangat bersejarah, kota Makkah akhirnya berhasil dikuasai oleh Kaum Muslimin. Kota tersebut kembali damai setelah peristiwa yang disebut Fathu Makkah. Saat itu, orang-orang Kafir di Mekah berbondong-bondong masuk ke agama Islam. Ka’bah yang semula menjadi tempat para berhala, akhirnya dijadikan tempat shalat untuk Umat Islam.
Nabi Muhammad ﷺ meminta Bilal bin Rabah untuk naik ke atas Ka'bah dan mengumandangkan adzan.
Ketika Bilal berdiri di atas Ka'bah dan mengucapkan adzan dengan suara merdu, semua orang terdiam. Dada mereka bergetar. Sebab, panggilan adzan itu bukan sekadar panggilan untuk salat. Adzan yang dilantunkan Bilal saat itu menjadi tanda bahwa di dalam ajaran Islam, semua manusia itu sama di hadapan Allah.
Tidak peduli warna kulit, asal suku, atau kaya miskin, yang penting adalah hati yang beriman dan berbuat baik. Banyak orang Quraisy yang dulu meremehkan Bilal, setelah itu melihat bahwa Bilal ternyata dimuliakan oleh Nabi. Dulu, jangankan adzan di atas Ka’bah, masuk ke pintu Ka’bah saja Bilal dilarang, karena dia hanya seorang budak, sementara Ka’bah pada zaman dahulu merupakan tempat yang dijadikan penyembahan berhala oleh kaum Kafir Quraisy.
Kini, mereka jadi paham. Kemuliaan itu bukan karena keturunan, melainkan karena ketakwaan. Luar biasa, ya? Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak merendahkan orang lain dan selalu menghargai siapa pun.
Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa Allah bisa mengangkat derajat siapa saja yang sabar, beriman, dan berbuat baik. Kisah Bilal mengajarkan anak-anak bahwa keberanian dan keimanan itu sangat berharga.
Meski dikenal sebagai seorang muadzin yang bersuara merdu, Setelah Rasulullah SAW wafat, Bilal jarang mengumandangkan azan. Wafatnya Rasul membuatnya sangat sedih. Saat adzan, dia selalu menangis tersedu-sedu saat mengucapkan kalimat "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Itulah yang membuatnya merasa tak sanggup mengumandangkan adzan.
Bilal wafat di Damaskus, Suriah, sekitar tahun 20 Hijriah (umur 60-an) dan dimakamkan di Pemakaman Bab al-Shaghir.



Posting Komentar untuk "Bilal bin Rabah, Muadzin Kesayangan Nabi"