Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Humor: Ternyata Cuma Lengkuas


Kisah ini terjadi belasan tahun yang lalu, saat Sukiyem masih duduk di bangku SMP, namun jika Sukiyem mengingatnya, rasanya miris, sedih namun kuooonyol begitu. Ceritanya, pas masih kecil, kondisi ekonomi keluarga Sukiyem memang belum se-establish sekarang. Maklum, Bapak Sukiyem hanya guru SD yang gajinya tak seberapa, sedangkan Sukiyem bersaudara, semuanya berjumlah 8 orang.

Berasal dari keluarga besar, dengan ekonomi pas-pasan, membuat mereka harus super-ngirit, termasuk dalam masalah makan. Jarang sekali mereka makan lauk ikan atau daging. Paling banter ikan asin alias gereh. Kalaupun makan telur, 2 telur didadar tipis sehingga terlihat lebar, lalu dibagi 8. Prihatin banget pokoke…

Nah, suatu hari, Sukiyem yang pintar menari itu, bersama beberapa orang teman, ditunjuk oleh sekolahnya untuk menjadi salah satu peserta tari massal dalam rangka menyambut kedatangan presiden Republik Indonesia, saat itu adalah Bapak Soeharto, yang hendak membuka acara Perkemahan Wirakarya Nasional. Tentu saja Genduk Sukiyem sueneeng bianget. Bertemu dengan orang nomor satu yang hanya sering ia lihat di TV hitam putih 14 inchi di rumah Simbahnya, tentu menjadi impian yang sangat menarik hatinya. Maka, bersama Miss Madonna, serta teman-teman satu sekolah yang juga ditunjuk untuk ikut menari, mereka berlatih keras supaya tidak ngisin-ngisini.

Pas hari H, sebelum fajar mlethek, Sukiyem sudah bangun. Shalat subuh, mandi pagi dan sarapan lauk tempe penyet. Ia membayangkan, setelah menari nanti, pasti ia akan diberi makan siang yang lauknya uenaaak tenan. Mungkin iwak pitik, daging sapi atau udang. Sing jelas dudu tempe, tahu, apalagi gereh.

Dengan menggunakan bus, para penari pun diangkut ke lokasi. Sukiyem pun mengerahkan segenap kemampuannya dengan menari seindah mungkin. Ada seratus lebih peserta tari massal itu. Alhamdulillah, karena kerja keras, penampilan mereka pun sukses. Bahkan karena bagusnya tarian itu, Pak Harto dan Bu Tien pun menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan para penari. Sukiyem dan teman-temannya pun bangga bukan main. Apalagi ketika mereka diberi kesempatan berfoto bersama dengan 2 orang yang menduduki posisi puncak di negara Indonesia itu. Sukiyem berencana akan meminta foto itu kepada panitia untuk ia pajang di ruang tamu rumahnya.

Setelah usai menari, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Seorang panitia datang membawa tumpukan kardus putih berisi makan siang.

"Kira-kira, apa ya, lauknya?" bisik Miss Madonna, yang juga sudah kemlecer menahan ludah yang terus kemrucuk.

"Mungkin iwak pitik," tebak temannya yang lain. "Atau daging sapi."

"Daging sapi? Wah, pasti uenaaak tenan," sambung Sukiyem. "Sudah 5 bulan aku ndak makan daging sapi. Terakhir makan ya pas lebaran itu…"

Akhirnya, kardus pun sudah berada di tangan anak-anak. Tak sabar Sukiyem membuka kardusnya dan langsung terpekik girang melihat apa yang ada di dalam. Nasi putih, sambel goreng, oseng brokoli dan rendang daging sapi.

"Daging sapi, lauknya daging sapi! Guede tenan dagingnya… nich, panjangnya enam senti, lebarnya empat senti, tebalnya 2 senti. Wah, muareem tenaaan!" Miss Madonna pun langsung menggayang daging sapi itu sambil berdecak-decak. "Wah, rasanya benar-benar lezat. Kokinya pasti lulusan hotel berbintang lima nich…"

Teman-teman yang lain pun tak sabar membuka kotaknya, dan mereka pun asyik menikmati santapan siangnya yang super-istimewa bagi orang ndeso yang jarang makan protein hewani seperti mereka. Sukiyem yang kebetulan kebelet pipis dan terpaksa harus ke kamar mandi, tertinggal beberapa menit. Namun begitu ia keluar, cepat-cepat ia menyusul rekan-rekannya membuka kardus jatah makan siangnya. Ia sudah membayangkan, nanti sepulang dari acara, ia akan sesumbar di hadapan ke-7 saudaranya, bahwa ia makan siang lauk daging sapi yang potongannya guede-guede sehingga muarem pool. 

Ia pun langsung meraih potongan rendang itu dan ia masukkan ke mulut. Namun setelah lidahnya berdecak-decak, kok rasane sepet. Ketika giginya mencoba menggigit, kok keras. Cepat Sukiyem mengambil kembali daging itu dari mulutnya, dan wajahnya berubah pucat.

"Oalah… ini bukan daging, ini laos!" teriak Sukiyem. Laos dalam bahasa Indonesia artinya lengkuas.

"Betul, jatahmu bukan daging, tapi laos…" ujar Madonna. "Bentuknya memang mirip daging. Mungkin seksi konsumsinya salah lihat. Laos dikira daging."

"Minta ganti ke panitia saja, ayo aku antar!" kata Madonna lagi, kasihan.

Sukiyem dan Madonna pun berlarian menuju tenda panitia. 

"Wah, maaf sekali, nasi kardusnya sudah habis!"

Lutut Sukiyem pun terasa lemas. Sambil berjalan gontai, ia kembali ke tempat istirahat para penari. Madonna yang melihat kemalangan sahabatnya itu merasa kasihan.

"Ini Yem, aku beri jatahku!" kata Miss Madonna sambil menyerahkan sisa dagingnya yang tinggal secuil. Teman-teman yang lain cuma bisa deleg-deleg, karena jatah daging mereka sudah licin tandas masuk ke perut.

Oalah… mau menikmati lezatnya rendang sapi saja tidak kelakon…



Posting Komentar untuk "Cerita Humor: Ternyata Cuma Lengkuas"

banner
banner